Life

Ajarkan Anak Anda Sedini Mungkin Tentang Keberagaman Serta Perbedaan

Hidup dalam lingkungan masyarakat yang majemuk misalnya Indonesia, menjadikan kita sebagai orangtua harus mengajarkan anak dalam menghargai perbedaan serta adanya toleransi. Orang yang tak terbiasa dengan keberagaman kerap merasa cemas dengan semua hal yang berbeda serta kadang kala menilainya menjadi ancaman. Sikap tersebut bukan aja dapat menyebabkan rasa intoleransi, namun juga akan memperkecil peluang anak dalam bergaul, memperoleh pendidikan, maupun pekerjaan, saat kemudian hari.

Menjadi orangtua dalam mengajarkan anak dalam menghargai sebuah perbedaan maupun keberagaman dapat kita awali dengan cara-cara sederhana ketika berada di rumah dengan sedini mungkin. Kenalkanlah anak-anak anda sedini mungkin. Mungkin dapat diawali dengan mengenalkan bahwa masing-masing orang memiliki perbedaan, contohnya saja warna kulit maupun cara dalam memakai pakaian, ujar psikolog anak.

1

Feka mengatakan, secara alami otak manusia bakalan melihat di antara yang homogen tentu ada yang berbeda. Contohnya aja walaupun sama-sama wanita dewasa, ada yang membedakannya yakni warna kulit maupun bentuk rambut. Itu karenanya lebih baik kita mengenalkan anak seluas mungkin. Termasuk juga belajar menerima orang yang berbeda dengan kondisi mereka. Akan tetapi, dengan tidak disadari orang dewasa yang berada di sekeliling kita menanamkan intoleransi.

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar serta dilihatnya. Oleh karena itu, sebagai orangtua kita harus memberikan contoh perilaku yang menunjukkan kita dalam menghargai adanya perbedaan. Anak yang tal pernah diajari dalam membeda-bedakan orang lain, bakalan tumbuh jadi anak yang mempunyai sikap simpati serta toleransi dengan sesamanya. Orangtua juga harus membangun komunikasi bersama sang anak.

Contohnya saja mengenai suku, budaya, maupun agama lain, kita dapat membuka diri dalam berdiskusi, ujar Feka. Ia menjelaskan bahwa apabila orangtua tetap menjaga supaya anak ada di lingkungan homogen, anak dapat mencari tahu dengan sendirinya. Jika ia mendapatkan informasinya dari yang supreme, ia bakalan menilai golongannya yang dominan, adanya rasa dominasi ketimbang pihak lain, ungkap salah satu psikolog.


Berita Terkait :

Join The Discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.