News

Haringga Tewas Dikeroyok, Ibunda Terus Menangis

 

Hati orang tua mana yang tak terkoyak karena ditinggal oleh anak tercinta untuk selamanya. Hal serupa dialami oleh Mirah, ibunda dari almarhum Haringga Sirla yang tewas karena dikeroyok suporter sepak bola. Nyawa Haringga melayang sia-sia ditangan orang-orang tak berperikemanusiaan.

Kesedihan dan kekecewaan semakin memuncak setelah Mirah mengetahui bahwa pelaku pengeroyokan Haringga ternyata tidak memiliki tiket masuk untuk menonton laga klasik tersebut. Hal tersebut dinyatakan oleh Kasatreskrim Polrestabes Bandung, AKBP M Yoris Maulana.

Ya mereka tak memiliki tiket pertandingan kemarin,” kata AKBP M Yoris Maulana, Kamis (27/09/2018).

Hingga saat ini, pihak berwajib telah berhasil menangkap delapan orang tersangka yang diduga terlibar dalam aksi pengeroyokan Haringga. Mereka adalah Aditya Anggara (19), Budiman (41), Goni (20), Joko (32),  Cepi (20), DFA (16), Dadang (19), dan SM (17).

Pengakuan para pelaku membuat miris siapa saja yang mendengarnya. Kabanyakan dari mereka mengaku tak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya terhadap Haringga. Bahkan, DFA dan Cepi sempat ngopi dan bersantai dengan teman-teman lain setelah melakukan pengeroyokan terhadap Haringga. Entah apa yang mereka pikirkan hingga tak merasa bersalah sedikitpun atas tidakan tersebut. Padahal, mereka telah menghajar Haringga dengan membabibuta tanpa ampun dan belas kasihan.

Sebagai seorang ibu yang  mengandung dan melahirkan serta merawah Haringga, Mirah merasa sangat sedih dan tak henti menangisi putranya itu. Ia menuntut pihak berwajib untuk mengusut tuntas kasus yang menyebabkan anaknya meninggal dunia. Mirah juga meminta agar semua pelaku yang melakukan pengeroyokan terhadap Haringga ditangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

Dalam satu kesempatan, Mirah diundang dalam bintang tamu ‘Pagi-Pagi Pasti Happy’, Kamis (27/09/2018) dan selama itu pula tangisnya pecah tak henti.

Ditangkapin semua pelakunya, dihukum seberat-beratnya,” pinta Mirah kepada pihak kepolisian.

Kesedihan nampak begitu dalam dirasakan oleh Mirah. Ia mengingat kembali masa-masa diamana ia dengan susah payah membersarkan Haringga.

Tetap saja saya yang urus, saya yang gendong-gendong. Saya sayang sama anak saya, tapi lihat dia diperlakukan kayak binatang, diperlakukannya sudah kelewatan,” kata Mirah dengan isak tangis semakin menjadi.


Berita Terkait :

Join The Discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.