Relationship

Kenali Hubungan Percintaanmu ‘Beracun’ atau Tidak!

Jakarta – Tidak ada satupun orang yang menginginkan untuk menjalin hubungan percintaan yang buruk. Namun, nyatanya tidak sedikit orang terjebak dalam hubungan percintaan ‘beracun’ dan parahnya lagi orang tidak menyadarinya.

Orang tetap bertahan dalam hubungan yang ‘beracun’. salah satunya karena sudah nyaman dengan status quo dan tetap meneruskan hubungan karena sulit untuk berubah.

“kita terkadang lebih suka menyangkal diri karena itu lebih mudah,” ujar Kimberl Hershenson, pakar hubungan.

Penyangkalan diri atau denial merupakan hal yang menyulitkan untuk lepas dari hubungan yang ‘beracun’. sebelum kondisi bertambah ‘beracun’ atau bertambah buruk, kenali apakah hubungan percintaan yang kamu jalani telah meracuni  mental mu atau tidak.

  1. Sering berteriak dan bertengkar

Setiap berbeda pendapat dengan pasanganmu kiranya tidak perlu dengan emosi yang naik turun seperti roller coaster. Yang artinya berbeda pendapat boleh namun dengan catatan kontrol emosi.

Menurut Erin ewis Ballard, seorang terapis keluarga dan pernikahan. Jika suatu pasangan sudah melibatkan tindakan kekerasan maka merupakan sebuah tanda untuk berhenti menjalin hubungan.

“jika konflik dalam hubungan adna sering kuat dalam melibatkan kata atau tindakan kekerasan, ini adalah lampu merah,” ujar Erin.

  1. Membuat skor

Dalam menjalin hubungan percintaan apalagi yang sudah masuk dalam tahap pernikahan  seharusnya tidak perlu membuat catatan tentang kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Karena menjalin hubungan bukan seperti pertandingan basket.

“ketika kamu dan pasangan sering mengungkit kesalahan atau hal-hal baik maka ini adalah tanda bahwa kamu berdua berada di pihak berlawanan,” pungkas Erin.

  1. Takut bicara

Bila kamu merasa takut untuk mengatakan sesuatu hal yang ada dipikiran pada pasanganmu, maka berhati-hatilah.

  1. Hanya peduli diri sendiri

orang yang hanya mementingkan diri sendiri atau narsistik akan membuat kamu (sang pasangan) merasa bersalah sehingga yang ada dipikiran mu bagaimana untuk bisa memenuhi keinginannya.

“mereka senang bicara tentang diri sendiri dan kurang responsif pada apa yang terjadi pada anda,”  ujar Evie Shafner, terapis pernikahan

 

 


Berita Terkait :

Join The Discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.